Klaim "Bebas Bahan Kimia" Bikin Deskripsi Produk Ditolak

Klaim "bebas bahan kimia" dan "100% alami" di deskripsi produk dianggap menyesatkan. Ini dasar aturannya dan gantinya yang aman.

Klaim "Bebas Bahan Kimia" Bikin Deskripsi Produk Ditolak

"Bebas bahan kimia" dan "100% alami" terdengar seperti pujian untuk sebuah produk. Di mata regulator, dua kalimat ini justru termasuk klaim yang tidak bisa dibuktikan. Dan klaim yang tidak bisa dibuktikan berisiko dianggap menyesatkan.

Kenapa klaim "bebas bahan kimia" tidak bisa dibuktikan

Semua bahan yang dipakai manusia tersusun dari senyawa kimia, termasuk air dan minyak kelapa. Jadi produk apa pun, sealami apa pun, tidak mungkin benar-benar bebas bahan kimia. Klaim yang secara ilmiah mustahil dibuktikan seperti ini justru membuat deskripsi Anda lemah, bukan meyakinkan.

Dasar aturannya: klaim harus bisa dibuktikan

Untuk kosmetik, klaim diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika. Prinsipnya sederhana: setiap klaim harus bisa dibuktikan, dan ada daftar klaim yang diizinkan serta tidak diizinkan.

Peraturan BPOM Nomor 18 Tahun 2024 tentang Penandaan, Promosi, dan Iklan Kosmetik menambahkan aturan soal penyajian informasi produk, termasuk di promosi dan iklan digital. Intinya, keterangan produk tidak boleh menyesatkan konsumen.

Di level umum, UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen melarang pelaku usaha memakai kata-kata yang berlebihan, seperti "aman", "tidak berbahaya", atau "tanpa efek samping", tanpa keterangan yang lengkap. Ini juga berlaku untuk klaim khasiat yang muncul pertama kali di deskripsi.

Klaim absolut yang sebaiknya dihindari

  • "bebas bahan kimia" dan "non-kimia"
  • "100% alami" atau "100% aman"
  • "pasti murni" dan "tanpa bahan berbahaya"
  • "satu-satunya" dan "hanya di sini"
  • "menyembuhkan" dan "langsung hilang"

Tabel sebelum dan sesudah

Klaim bermasalahGanti dengan yang bisa dibuktikan
"100% alami, bebas bahan kimia""Mengandung ekstrak centella dan glycerin"
"100% aman untuk semua jenis kulit""Diformulasikan tanpa alkohol dan tanpa parfum"
"Dijamin tidak bikin iritasi"Mencantumkan hasil uji bila memang punya buktinya
"Paling ampuh menghilangkan jerawat""Membantu merawat kulit berjerawat"

Kalau mau menyebut bahan, sebut yang bisa dicek

Konsumen sekarang terbiasa membaca daftar bahan. Sebut nama bahan yang spesifik, seperti niacinamide, ceramide, atau glycerin, tanpa dibumbui kata "super" atau "ajaib". Cara ini lebih meyakinkan sekaligus aman, dan sejalan dengan daftar kata yang dilarang di deskripsi skincare.

Perlu dibedakan juga klaim soal lingkungan. Menulis "ramah lingkungan" atau "eco friendly" punya aturan sendiri, dan bukan sekadar soal bahan. Risiko greenwashing di deskripsi produk dibahas terpisah karena dasar hukumnya berbeda.

Checklist sebelum posting

  • Buang klaim yang tidak bisa Anda tunjukkan buktinya: "100%", "bebas", "pasti", "dijamin".
  • Ganti dengan kalimat faktual: bahan yang dipakai, hasil uji yang dimiliki, atau cara pakai.
  • Simpan dokumen pendukung untuk setiap klaim yang Anda pertahankan.
  • Periksa kembali foto dan video, karena klaim sering ikut terbawa di gambar.

FAQ: pertanyaan yang paling sering muncul

1. Apakah kata "alami" dilarang di deskripsi produk?

Tidak otomatis. Yang bermasalah adalah klaim absolut dan tidak terbukti, seperti "100% alami" atau "bebas bahan kimia".

2. Kenapa deskripsi skincare saya dianggap klaim, padahal itu cuma deskripsi?

Karena deskripsi menjual produk, ia dihitung sebagai promosi. Aturan klaim kosmetik berlaku pada bagian ini, bukan hanya pada iklan berbayar.

3. Apa gantinya kalau tidak boleh bilang "100% aman"?

Sebut apa yang benar-benar Anda ketahui: bahan yang dipakai, hasil uji yang dimiliki, atau cara pakai yang disarankan.

Sumber dan rujukan

Ringkasan ini disusun dari aturan yang dipublikasikan, bukan hasil pratinjau resmi platform.

Sebelum menempelkan klaim baru di deskripsi, jalankan pemeriksaan dulu. Alat pemeriksaan sebelum posting seperti ByeRisk memisahkan temuan menjadi dua tingkat, "Wajib diperbaiki" dan "Disarankan", supaya jelas mana kata yang harus diubah sebelum produk tayang dan mana yang sekadar kurang rapi. Pemeriksaan teks, foto, dan video bisa dimulai dari pemeriksaan kepatuhan konten TikTok Shop.

Biarkan pemeriksaan yang mengingat aturannya

Daftar dan dapatkan 100 kredit untuk langsung memeriksa teks, video, dan gambar berbahasa Indonesia, lengkap dengan aturan dan pasal platform yang terpicu.

Daftar gratis

Artikel terkait

Syarat & Ketentuan Toko Online: 6 Klausula Baku yang Dilarang
Panduan Kepatuhan

Syarat & Ketentuan Toko Online: 6 Klausula Baku yang Dilarang

Syarat dan ketentuan toko online sering memuat klausula baku yang dilarang UU 8/1999. Ini 6 contohnya, cara menulis ulang, dan cek sebelum dipakai.

Klaim Palsu di Iklan TikTok: Ancaman 6 Tahun Penjara UU ITE
Panduan Kepatuhan

Klaim Palsu di Iklan TikTok: Ancaman 6 Tahun Penjara UU ITE

Klaim palsu di iklan TikTok bisa berujung pidana, bukan cuma produk ditolak. Ini Pasal 28 UU ITE, contoh klaim berisiko, dan cara aman menulisnya.

Bilang "Termurah" di Deskripsi Produk: Kapan Melanggar?
Panduan Kepatuhan

Bilang "Termurah" di Deskripsi Produk: Kapan Melanggar?

Klaim termurah di deskripsi produk bukan sekadar pilihan kata. Ini aturan iklan perbandingan dan batas yang membuat kalimatnya berisiko.