Foto Before After di Jualan: Kapan Bikin Produk Ditolak

Foto before after di jualan bisa bikin produk ditolak kalau klaimnya tak bisa dibuktikan. Ini aturan BPOM dan UU 8/1999 serta cara aman memakainya.

Foto Before After di Jualan: Kapan Bikin Produk Ditolak

Foto before after adalah cara tercepat menunjukkan produk bekerja. Tapi di kategori kosmetik dan skincare, foto jenis ini justru sering jadi alasan produk ditolak. Bukan karena fotonya ada, tapi karena klaim di baliknya tidak bisa dibuktikan.

Kenapa foto before after masuk radar peninjauan

Penandaan, promosi, dan iklan kosmetik diatur Peraturan BPOM No. 18 Tahun 2024. Aturannya jelas: informasi harus jujur, tidak berlebihan, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Foto "sebelum-sesudah" yang menampilkan perubahan ekstrem tanpa dasar berisiko dinilai menyesatkan.

Menurut siaran pers BPOM Februari 2025, iklan kosmetik yang tidak memenuhi ketentuan naik dari 21,63% pada 2023 menjadi 26,12% pada 2024.

Salah kaprah 1: "Yang penting fotonya asli, jadi aman"

Keaslian foto bukan satu-satunya syarat. Yang dinilai adalah apakah foto itu mewakili hasil yang wajar. Kalau pencahayaan atau filter dibuat berbeda antara foto sebelum dan sesudah, hasilnya bisa menyesatkan meski fotonya asli.

Salah kaprah 2: "Itu cuma gaya marketing, bukan klaim"

Di mata konsumen, gambar adalah klaim. PerBPOM No. 3 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika menyebut klaim wajib benar, jujur, dan dapat dibuktikan. Foto yang menampilkan "kulit cerah dalam tiga hari" adalah klaim hasil, dan hasil itu harus bisa dibuktikan.

Salah kaprah 3: "Tanpa tulisan, foto tidak dihitung iklan"

Aturan promosi dan iklan mencakup kombinasi gambar dan tulisan. Menampilkan foto hasil instan dengan panah "before → after" tetap termasuk promosi, walau tanpa satu kata.

Salah kaprah 4: "Ditolak cuma karena kata, bukan foto"

Alasan penolakan sering muncul sebagai satu baris kategori, tanpa menyebut bagian yang salah. Bisa kata, bisa gambar, bisa keduanya. Karena itu bagian gambar juga perlu diperiksa, bukan hanya deskripsi.

Tabel sebelum → sesudah

Sebelum (berisiko)Sesudah (lebih aman)
Foto before after tanpa keterangan durasi, wajah tampak drastis berubahFoto hasil dengan keterangan durasi pemakaian, tanpa janji waktu instan
Caption: "buktikan sendiri, cerah dalam 3 hari"Caption: "hasil pemakaian rutin bisa berbeda tiap orang"
Foto diedit agar kulit tampak lebih putihFoto apa adanya, pencahayaan sama pada kedua foto
Testimoni: "jerawat hilang total dalam seminggu"Testimoni: "membantu merawat, hasil berbeda tiap kulit"

Cara aman memakai foto hasil

  • Tampilkan kondisi apa adanya, jangan mengandalkan filter.
  • Beri keterangan durasi pemakaian, bukan janji hasil dalam hitungan hari.
  • Hindari kata absolut seperti "total", "100%", dan "permanen".
  • Cantumkan bahwa hasil bisa berbeda tiap orang.
  • Untuk sisi teks dan testimoni, lengkapi lewat artikel testimoni pelanggan di deskripsi produk.

Apa risikonya kalau dibiarkan

Untuk kosmetik, sanksinya administratif, dari peringatan tertulis hingga pencabutan nomor notifikasi. Untuk klaim yang menyesatkan, UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen ikut berlaku. Pasal 9 melarang mengiklankan barang secara tidak benar, Pasal 10 melarang pernyataan yang menyesatkan, dan Pasal 62 mengancam pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp2 miliar.

Klaim menyesatkan juga termasuk klaim khasiat yang tidak terbukti, sejalan dengan kasus klaim "teruji klinis" di deskripsi produk yang wajib punya bukti uji.

Kalau memeriksa satu-satu terasa lama, pemeriksaan bisa dibantu alat. Alat pemeriksaan sebelum posting seperti ByeRisk memeriksa teks, video, dan gambar sekaligus, lalu menandai tiap temuan sebagai "Wajib diperbaiki" atau "Disarankan". Untuk gambaran prosesnya, lihat pemeriksaan kepatuhan konten TikTok Shop.

FAQ: pertanyaan yang paling sering muncul

1. Apakah foto before after dilarang total di TikTok Shop?

Tidak. Yang dilarang adalah klaim menyesatkan di baliknya. Foto hasil boleh selama jujur dan tidak menjanjikan hasil instan.

2. Kalau fotonya dari pembeli asli, apakah aman?

Belum tentu. Foto pembeli tetap dinilai: apakah mewakili hasil wajar, dan apakah keterangannya menjanjikan hasil seragam untuk semua orang.

3. Kenapa produk saya ditolak padahal pakai foto asli?

Pencahayaan yang berbeda, filter, atau caption hasil instan tetap bisa membuat foto dinilai menyesatkan, walau fotonya asli.

4. Bagaimana membuktikan klaim hasil kalau ditanyakan?

Simpan data uji, dokumentasi durasi pemakaian, dan izin dari pemilik foto. Klaim yang bisa dipertanggungjawabkan harus punya bukti, bukan hanya gambar.

Sumber dan rujukan

Ringkasan ini disusun dari aturan yang dipublikasikan, bukan hasil pratinjau resmi platform. Sebelum mengunggah, bandingkan foto hasil Anda dengan iklan di kategori yang sama — kalau terasa "terlalu bagus untuk benar", peninjau kemungkinan menilainya sama.

Biarkan pemeriksaan yang mengingat aturannya

Daftar dan dapatkan 100 kredit untuk langsung memeriksa teks, video, dan gambar berbahasa Indonesia, lengkap dengan aturan dan pasal platform yang terpicu.

Daftar gratis

Artikel terkait

Klaim "Dijamin Untung" ke Calon Reseller Bisa Kena UU 8/1999
Panduan Kepatuhan

Klaim "Dijamin Untung" ke Calon Reseller Bisa Kena UU 8/1999

Kalimat "dijamin untung" dan "pasti balik modal" saat rekrut reseller masuk janji yang belum pasti. Ini aturan UU 8/1999 dan versi kalimat yang aman.

Klaim "Dipakai Artis" di Deskripsi Produk: Kapan Melanggar
Panduan Kepatuhan

Klaim "Dipakai Artis" di Deskripsi Produk: Kapan Melanggar

Menulis "dipakai artis" atau memakai testimoni selebgram di listing bisa jadi iklan menyesatkan kalau tidak benar. Ini batas dan risikonya.

Klaim "Menghilangkan Jerawat" di Skincare: Kosmetik vs Obat
Panduan Kepatuhan

Klaim "Menghilangkan Jerawat" di Skincare: Kosmetik vs Obat

Kalimat "menghilangkan jerawat" di deskripsi skincare memindahkan klaim kosmetik ke ranah obat. Ini batasnya menurut PerBPOM dan cara menulis ulangnya.